Pages

Selasa, 05 Juni 2012

lombok eksotik



Kira2 sebulan yang lalu,  saat gue sedang asik ngeblog, tau2 bos gue masuk ke dalam ruangan kerja gue dan ngasih kabar kalo ternyata gue terpilih sebagai salah satu peserta yang berkesempatan untuk ikut tur Bali - Lombok tahun ini.

"KTPnya difaks langsung ke kantor pusat ya, mbak!" demikian bos gue mengakhiri kabar bagus tersebut.


Beberapa saat gue sempet ragu, mau ikut atau gak. Bukan apa2, soalnya dari 12 peserta tur dari Jakarta, hanya gue seorang yang perempuan. Udah kebayang deh gimana garingnya gue selama tur karena gak ada temen buat ngegosip. Etapi, tunggu dulu.... gue jadi inget kalo Lisa juga punya rencana bakal jalan2 ke Bali dengan teman2nya pada bulan Mei. Ah, siapa tau kami bisa janjian ketemu di sana trus sunbathing bareng di hamparan pasir kuta. Lagi pula, setelah gue pikir2, kapan lagi gue punya kesempatan kaya' gini? Jalan2 sambil menikmati keindahan pantai di Lombok yang kata orang bikin mata kita sayang untuk berkedip, hampir selama seminggu secara cuma2 dan masih ditambah uang saku lagi. Oke deh! berangkat kalo gitu... :)




Namun pada kenyataannya, gue rada kecewa setelah gue terima itinerary. Karena ternyata jadwal keberangkatan gue dan Lisa gak sama. Lisa berangkat lebih awal, di minggu ketiga bulan Mei. Sedangkan gue, direncanakan akan tiba di Bali tiga hari setelah Lisa pulang ke Medan. Uh! 


Akhirnya hari keberangkatan pun tiba. Senin 21 Mei 2012 jam sepuluh pagi, kami peserta tur dari Jakarta janjian untuk bertemu di terminal keberangkatan 1A. Gue sendiri berangkat bareng Irfan dianter suami. Oia, Irfan ini satu cabang dengan gue. Awalnya Irfan marketing di cabang yayasan yang khusus melayani penjualan sekolah2 yayasan keristen, tapi begitu cabangnya di bubarkan, otomatis Irfan dimutasi ke cabang gue sesuai dengan wilayah kerja dia. Satu lagi yang akhirnya bikin gue tenang. Gue punya temen. Hehe...


Begitu nyampe bandara, ternyata disana 13 peserta tur dari kantor pusat Ciawi sudah menunggu. Yang bikin iri, ada tiga peserta tur perempuan dari Ciawi, mereka adalah Umi, Septi dan Rita. Akhirnya gue pun berkenalan dengan mereka. Gak rugi ternyata bisa kenal dengan mereka. Apalagi pada akhirnya gue jadi paham apa saja kerjaan editor seperti yang dilakonin oleh Umi dan Septi. Gue jadi tau kendala apa aja yang bikin sebuah naskah kemudian bisa telat cetak. Etapi masukan ini cukup sekedar gue aja yang tau ya, Sep.. ya, Umi.. urusan ngejelasinnya sama para marketing, mending lo bedua aja deh yang ngomongin. :)


Ternyata begitu cek in, peserta tur lain dari Medan, Bengkulu, Jambi, Batam, Pekanbaru, dan Palembang yang transit via Jakarta, datang berturut2 kemudian ngumpul bareng untuk berangkat menuju Lombok dengan pesawat yang sama dengan kami.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, akhirnya pesawat yang membawa kami dari Jakarta tiba di bandara Praya, Lombok. Dan ternyata sejak bulan Oktober 2011, bandara Selaparang --bandara udara Lombok selama ini-- sudah tidak beroperasikan lagi dan kemudian digantikan oleh bandara udara internasional Praya. 


Sesampai di bandara Praya, ternyata rombongan tur dari Jogja, Semarang, Malang, Surabaya, Madura, Makasar, Palopo, Samarinda telah menanti kami. Setelah lengkap seluruh peserta tur yang berjumlah 58 orang, dipandu oleh pemandu wisata yang memperkenalkan dirinya dengan nama Jayadi, kami pun berangkat menujuuu... pusat oleh2 khas Lombok! Lho? Iya, karena karena kami tiba di Lombok sudah sore, maka kegiatan hari pertama ini hanya ke pertokoan yang menjual oleh2 khas lombok, lalu makan malam, kemudian cek in di hotel Graha Beach di Senggigi, Lombok.


____makan malam with mas abdi, umi daaan... (ups! yang sebelah kiri ini gue belom kenal ^.^)____

 ____saya dan irfan____

____saya, septi, rita dan umi____





Selasa, 22 Mei 2012


Setelah sarapan, tur hari kedua ini dimulai dengan mengunjungi Gili Trawangan. Gili sendiri berati pulau. Dan untuk mencapai Gili Trawangan, terlebih dahulu kita harus menuju ke pelabuhan Bangsal untuk menyeberang. Butuh waktu dua jam dari Senggigi menuju pelabuhan Bangsal. Dan teryata perjalanan dua jam sama sekali gak terasa membosankan karena sepanjang perjalanan mata serasa dimanjakan oleh keindahan panorama pantai Senggigi yang bener2 indah. 



____bergaya dulu sebelum berangkat____

Sebenernya ada rute lain yang bisa ditempuh untuk bisa sampai ke pelabuhan Bangsal, yaitu lewat jalur Mataram. Meskipun menempuh jarak yang lebih jauh, dengan medan jalan yang berkelok, menurun dan mendaki, tapi kali itu pak Jayadi lebih mengambil jalur melewati pesisir pantai Senggigi. Dan ternyata ketika melewati rute ini, kami diajak mampir sejenak di Malimbu yaitu sebuah tebing di pesisir pantai hingga kita bisa menyaksikan keindahan pantai dari atas tebing.


____tuh bener kaaaann.... pantainya cakep banget, saya gak bo'ong kok!____

____mata bener2 dimanjain deh____

Setelah berjalan menuruni tebing yang landai, nampaklah laut yang indah membentang di hadapan gue. Mendadak gue nahan napas beberapa detik karena gak pernah nyangka bakalan melihat keindahan seperti ini. Takjub! Gue bener2 tercengang begitu melihat pemandangan di depan gue. Langit cerah berawan di atas kepala. Laut berwarna biru kehijauan membentang di hadapan. Dan gue, tegak berdiri di sebuah tebing yang menjorok ke arah laut sambil memandangi harmonisasi pemandangan alam yang membentang. Subhanallah... Sang Penguasa Alam telaten banget ya, melukis semua ini. Tadinya gue sempet pengen lari ke ujung tebing kemudian lompat dan menceburkan diri ke laut biar kaya' Bella Swan agar kemudian Edward Cullen lantas menolong dan menyelamatkan gue. Tapi niatan itu gue urungkan, karena ternyata gue jiper begitu liat tinggi tebing yang sama kaya bangunan bertingkat sepuluh itu.

____gue dan Juli Sari Silitonga____


 ____dari ki ke ka : mbak Haryati, Umi, gue, Juli dan Tyas____

____pulau di belakang gue itulah Gili Trawangan____

 ____airnya terlihat berwarna hijau toska dari atas sini____

____iwan, gue dan umi____

Perjalan kami teruskan kembali hingga akhirnya kami sampai di pelabuhan Bangsal untuk menyeberang. Dari tempat parkir bus untuk mencapai pelabuhan, kami harus menaiki cidomo (andong/dokar) yang bisa diisi empat orang penumpang, ditarik seekor kuda dan dikendarai supir cidomo biar baik jalannya. Tuk tik tak tik tuk tik tak.... **abaikan** Tak sampai lima menit, kami tiba di pelabuhan Bangsal. Kemudian pak Jayadi menginstruksikan kami untuk langsung naik ke dalam perahu dari dua perahu yang disewa untuk membawa rombongan kami menyeberang ke pulau Gili Trawangan.


____pak erland, saya dan kusnadi____

Butuh waktu empat puluh lima menit untuk mencapai pulau Gili Trawangan. Awalnya gue sempet ngeri, takut ntar dalam perjalanan, gue terserang mabok laut. Ketakutan ini wajar, soalnya jika gue ingat2 lagi terakhir gue menyeberangi lautan adalah belasan tahun yang lalu saat menyeberang dari Bakaheuni ke Merak atau sebaliknya naik kapal feri, etapi begitu menaiki perahu dan perahu mulai melaju, ternyata gue gak kenapa2. Yang ada gue malah ngiler begitu liat Iwan dan Umi duduk di bagian depan perahu menentang angin sepanjang perjalanan membelah selat yang memisahkan pulau Lombok dan pulau Gili Trawangan. 




____ternyata duduk di sini enyaaakk...!____




Meski anginnya lumayan kenceng, tapi gue betah banget duduk di sini. Jangan! Jangan ngebayangin gue beradegan romantis  seperti saat Jack bertemu Rose di pelem Titanic. Gue betah karena dari sini, gue bisa leluasa memandang birunya langit yang dipenuhi awan2 putih menyatu dengan birunya air laut di kaki langit dan hanya dibatasi oleh garis vertikal yang membentang di depan gue dari kanan ke kiri. 


____gili trawangan tujuan kami____


Tiba juga akhirnya kami di pulau yang terkenal dengan sebutan party island ini. Kenapa disebut begitu? Karena di pulau ini, pesta selalu digelar saban hari!!! Mulai jam 5 sore, semua club dan restaurant sepanjang bibir pantai menghias diri dan menyetel lagu2 reggae. Kemudian pesta pun berlangsung hingga pukul 5 subuh keesokan paginya. Jadi, tinggalkan masalah pekerjaan begitu memasuki pulau ini, karena di pulau ini, everyday is sunday.... So, let's party! 



Begitu menginjakan kaki di daratan pulau, kali ini, nyaris aja rahang gue jatoh karena melongo lebar saking terpesonanya dengan pemandangan laut di pulau Gili Trawangan. Gue sempet pengen nyebur saking girang liat air laut yang birunya kaya air aqua. Tapi buru2 gue urungkan. Malu. Lagian gak lucu juga kalo peserta tur yang laen masih foto2, sementara gue udah kecipak2 maen aer sendirian.






Di sini, pak Jayadi menawarkan kami mengikuti trip untuk menikmati pemandangan bawah laut menggunakan glass bottom boat. Gue lantas berjalan terburu2 menuju kapal glass bottom boat yang ditunjuk pak Jayadi dengan antusias karena gak sabar buat liat pemandangan bawah laut yang indah tersebut. Namun, belakangan gue menyadari ternyata pilihan gue kali ini bener2 keliru. Satu kapal bareng Umi, mas Abdi, pak Recky, Irfan, pak erland dan lain2, kami diajak menuju ke tengah laut untuk menikmati karang2 dan biota laut lainnya. 






Sepanjang perjalanan mata kami tak lepas menatap ke dasar lambung kapal yang terbuat dari kaca. Menonton ikan2 yang berenang, menikmati terumbu karang, sampai menyaksikan bangkai kapal yang karam di dasar laut yang usianya sudah belasan tahun. Etunggu.... Lho! Lho!! kok pandangan gue jadi bergoyang2 gini yah?! padahal saat itu mesin perahu sedang dimatikan agar kami dapat lebih jelas menyaksikan pemandangan dasar laut. Trus, kenapa perut gue jadi mual begini kaya' mabok laut?! Ah, tenyata bukan kaya' lagi.... emang gue bener mabok laut. Mungkin karena sepanjang perjalanan tadi tatapan gue selalu tertuju ke dasar kapal atau juga karena barusan menaiki kapal saat menyeberang, eh sekarang nekat udah naik kapal lagi. Gak tau deh mana alasan yang lebih masuk akal, yang pasti, gue ngerasain kepala gue pusing banget, hingga akhirnya gue hanya bisa diem sambil sesekali memejamkan mata. Juga berdo'a dalam hati semoga trip ini lekas selesai dan kembali ke daratan sebelum isi perut gue keluar. 


Sesekali saat gue membuka mata,  selintas gue melihat para peserta lain pun sudah mulai ada yang memejamkan mata, memijat2 keningnya, bahkan menutupi mulut dengan kedua tangannya. Bwahaha.... ternyata yang mabok bukan cuma gue!! 


Sebenernya di awal perjalanan tadi pak Jayadi sempet memberikan resep tradisional agar tidak mabok laut yaitu dengan mencelupkan jari telunjuk ke air laut lalu kemudian menghisapnya. Dan gue sama sekali lupa melakukan saran pak Jayadi tersebut.

Gue lirik Irfan yang sedang memejam tepat di samping kiri gue.


"Fan, lo pusing?"


"Iya nih! pak Jayadi bo'ong tuh! katanya tadi ngisep telunjuk doang biar gk mabok, kalo gini sih musti minum dua ember, baru gak mabok..."


Sebenernya gue geli denger keluhan Irfan, tapi karena gue masih ngerasain kepala gue yang terasa seperti terombang ambing, maka gue hanya bisa tersenyum kecut sambil merem.



Akhirnya trip menggunakan glass bottom boat tersebut selesai juga. Dan alhamdulillah tak ada seorang peserta pun yang muntah. Hehe...


____menu makan siang____

Usai bersantap siang, para peserta tur yang masih ingin menyaksikan keindahan laut boleh ikut bersnorkeling yang akan langsung dipandu oleh pak Jayadi. Sedangkan sebagian peserta lagi memilih berkeliling pulau dengan menggunakan cidomo atau pun menyewa sepeda. Gue sempet cemas ketika beberapa peserta perempuan yang gue tanya menyatakan tidak  akan ikut bersnorkeling. Yah! masa gue sendirian yang ikut sih? Tapi gak apalah... mumpung di Lombok. Kapan lagi, iya gak? Ternyata dugaan gue salah! Dua perempuan, Septi dan Tyas, yang gue tau sangat kalem itu, ternyata minat juga ikut snorkeling. Syukurlah, akhirnya gue gak jadi sendirian.


____saya dan septi bersiap2 untuk bersnorkeling____

Lagi2 gue cemas. Apa iya, gue bisa snorkeling? Gue kan belom pernah berenang di laut. Pernah sih....tapi itu kan udah lama. Duluuuu...banget saat gue masih kecil, saat berenang di ancol. Selain itu, ilmu berenang gue kan masih cetek, eemm.... maksudnya kalo renang lebih seneng ke kolam yang dalemnya seketek gitu. Belom lagi gaya renang gue yang suka tendang sana tendang sini. Gak sinkron gerakan antara tangan dan kaki. Juga suka panik sendiri. Tapi, apa iya lo harus meninggalkan kesempatan langka untuk menyaksikan keindahan bawah laut cuma gara2 lo gak bisa berenang? Come on, Vo.... you can do it! Akhirnya, gue nyebur juga ke laut. Cihuuuuyy...!

Gimana rasanya snorkeling pertama kali? Amazing! Gak terlupakan deh. Dengan dipandu oleh pak Jayadi, gue, Tyas dan Septi diajak belajar menggunakan alat snorkel, mengambang menggunakan pelampung dan berenang menggunakan sepatu katak. Uh! Jangan ditanya berapa liter air laut yang udah gue telen, karena menyelam sambil membiasakan diri bernapas menggunakan mulut. Belom lagi gue berkali2 harus mendongakkan kepala dari air laut untuk membersihkan alat snorkel karena beberapa kali air asin itu menerobos masuk ke dalam kacamata renang dan merembes kedalam hidung. Tapi syukurlah terbiasa juga. 



Maka mulailah kami menyusuri pantai dengan bersnorkeling berempat dengan pak Jayadi. Kami berenang menyusuri sepanjang pantai yang hanya berjarak tiga meteran dari bibir pantai. Pak Jayadi sengaja membawa roti yang dia masukkan ke dalam sebuah botol plastik bekas air mineral. Di sepanjang kami menyusuri pantai, ikan2 berwarna warni menghampiri dan berebutan makan roti yang kami berikan langsung dari tangan kami. Sekali lagi gue minum air laut! Uhuk, uhuk.... Kali ini disebabkan karena mulut gue mangap pengen teriak girang begitu liat ikan2 berenang bareng gue. Ada yang berwarna biru terang macam Dori, merah kaya' nemo, hitam gepeng mirip Gili dan lain2. **nyilem**

Gak terasa kami menempuh jarak kurang lebih lima ratus meter saat bersnorkeling menyusuri pantai sambil memberi makan ikan. Kami pun menepi dan kembali ke spot dimana kami memulai snorkeling tadi dengan berjalan kaki.


"Gimana, sudah bisa kan?" tanya pak Jayadi.


Serentak kami bertiga mengangguk senang.



"Sekarang kita ke tengah ya...!" ajak pak Jayadi.


Lagi2 kami menganggukan kepala. **gak sadar kalo alat snorkel masih terpasang di mulut**

Noraaaaaakk...!!!






Kali ini pak Jayadi benar2 mengajak kami hingga tengah laut. Terumbu karangnya bagus2. Berwarna warni. Coklat, krem, kuning, merah dan masih banyak warna lain. Bentuknya bermacam2. Belom lagi ikan2nya, lebih beragam dari pada yang gue liat tadi di sepanjang bibir pantai. Tiba2 pak Jayadi menunjuk ke dasar laut. Gue pun menoleh ke arah yang ditunjuk pak Jayadi. Waaaahh....! Ada ikan bulat gepeng sebesar penggorengan yang berenang di bawah kami. Kalo dilihat dari bentuknya, gue pernah liat ikan jenis ini beberapa kali di tipi. Tapi sayangnya, gue gak tau nama ikan itu apa, sebab gue gak sempat kenalan sama tuh ikan. 

Beberapa ratus meter ke depan, lagi2 pak Jayadi mengarakhan telunjuknya lagi. Kali ini ke arah kiri kami. Wuuuiiiiihh....! Tepat di sana, seekor penyu berenang dengan damai. Ramai2 kami menghampiri penyu tersebut, hingga kami dengan penyu tersebut hanya berjarak beberapa jengkal. Maksud hati ingin menyentuh tempurung penyu, tapi tak ada yang bisa menyaingi kecepatan mahluk air di wilayah mereka sendiri, tangan gue pun hanya bisa menggapai2 air. 



Gak terasa dua jam sudah kami bersnorkeling. Bener2 sedih harus mengakhirinya. Rasanya masih kepengen menikmati keindahan biota laut. Disaat semua peserta snorkeling telah kembali ke basecamp, gak tau siapa yang punya ide, kemudian kami berempat --gue, Septi, Iwan dan pak Juneldi-- perserta snorkeling yang tersisa, memutuskan untuk mengelilingi pulau dengan menggunakan sepeda. Medan yang kami tempuh lumayan berat, karena berkali2 kami harus turun dan menuntun sepeda kami masing2 karena jalanan yang berpasir. Mungkin karena itu, hingga perjalan kami memakan waktu sampe sejam setengah. Sempe baju yang kami pakai untuk berenang tadi kering di badan.


Jarak yang kami tempuh mengelilingi pulau dengan bersepeda kira2 sepanjang lebih dari 5 kilometeran barangkali, gue juga gak tau pasti, soalnya saat itu gue gak sempet bawa penggarisan buat ngukurnya. Tapi yang pasti, begitu kami berempat tiba di basecamp, semua peserta tur sudah gak ada. Basecamp kosong. Yang terlihat cuma pak Jayadi yang rupanya sedang menunggu kami. Sementara para peserta tur yang lain seluruhnya sudah menunggu di atas perahu untuk menyeberang kembali ke pulau Lombok. 


Akhirnya kami pun buru menuju perahu. Tiba di kapal, sejenak kami sempet menjadi obyek tatapan dan ejekan peserta tur yang laen. Begitu perahu yang kami tumpangi meluncur membelah lautan, beberapa kali perahu kami oleng karena terhempas oleh ombak tinggi akibat angin yang semakin kencang. Dalam hati gue berdo'a, semoga gak ada satu peserta pun yang mabuk laut. Hmm...jadi gak enak nih sama temen2 yang lain... maaf ya...






Tur kemudian dilanjutin kembali. Setelah mendarat di pelabuhan bangsal, kami kemudian diajak menuju pusat penjualan mutiara. Di tempat ini ada dua jenis mutiara yang dijual yaitu mutiara air tawar dan air laut. Perbedaan mutiara air tawar dan air laut adalah dari tempat dimana mereka dibudidayakan. Jika mutiara air laut dibudidayakan di laut sedangkan mutiara air tawar, ya di air tawar. **ya iyalaaah...! menurut lo?** Gak cuma itu kok... dari bentuknya, jika mutiara air laut tak selamanya bulat sempurna, dia bisa berbentuk lonjong, setengah lingkaran bahkan gak beraturan. Biasanya mutiara air laut warnanya lebih berkilau ketimbang mutiara air tawar. Jika mutiara air laut bisa tahan jika dibakar, namun mutiara air tawar bisa terbakar tapi tidak meleleh. Karena perbedaan2 tersebut maka harga kedua jenis mutiara ini berbeda. Mutiara air laut lebih mahal dibanding mutiara air tawar dan dijual per gram tergantung dari berat mutiara tersebut. Jadiiii.... Lisa, Sisca, silakan liat sendiri, termasuk yang manakah jenis mutiara yang gue oleh2kan untuk kalian :)





Dari pusat penjualan mutiara, tur hari kedua diakhiri dengan makan malam kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.





 ____makan malam sebelum kembali ke hotel____




Rabu, 23 Mei 2012


Hari ketiga, gue bangun pagi2 sekali karena gak sabar buat tur hari ini. Bo'ong deng! nyatanya gue gak bisa tidur semaleman! alesannya klasik, karena kangen rumah :'( Dan rencananya hari ini adalah hari terakhir kami di Lombok. Pagi itu, seusai sarapan kami cek out dan memulai tur sebelum sore nanti kami akan di drop langsung ke bandara untuk bertolak menuju Bali. **setdah! bahasa gue kaya' pembawa berita yak!**




____mas abdi (saya penggemar blog dia loh!), umi, saya, rita daaan... (lagi2 saya lupa!) yang saya inget, yang kaos merah dari sibolga dan jaket hitam dari makasar____


____umi, mery, iwan, saya dan...(dua orang di kanan saya lupa namanya)____ 


____foto bareng di depan hotel____


Hari ini kami agak menjauh dari pantai dan laut. Kami mengunjungi desa Banyumulek. Di sini, gue sempet belajar membuat kerajinan dari gerabah.













Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju desa Sukarara untuk melihat kerajinan kain songket dan tenun ikat. Gue kembali sempat merasakan bagaimana membuat sebuah songket dengan alat tenun.







Dan ternyata untuk menenun sehelai songket butuh banyak, banyak, banyaaaaakk.... kesabaran. Apalagi buat mata gue yang emang udah minus kaya' gini, karena sering kali gue keliru memasukan benang yang mendatar diantara benang2 yang memanjang. Belom lagi posisi tubuh kita yang harus selalu tegak karena alat tenun tersebut diikatkan langsung pada bagian pinggung badan kita, sehingga tegak atau tidaknya tubuh kita berpengaruh pada lurus tidaknya tepi dari sehelai kain songket.


____dari ki ke ka : irfan, rita, pak herman, saya, pak erland dan mas pugie____


____mejeng diantara kain tenun ikat____





 ____megang doang, gak beli____


____pura2 milih, biar gak dimarahin yang punya toko____

Setelah meninggalkan desa Sukarara, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami meluncur menuju ke sebuah desa yang bernama desa Sade, dimana di desa tersebut terdapat suku asli lombok yaitu suku Sasak. Bahasa yang digunakan penduduk suku sasak ini adalah bahasa sasak. **emang juga!** Sebagian besar agama yang dianut oleh masyarakat suku sasak adalah agama yang dikenal dengan istilah islam Wetu Telu. Namun agama islam yang dianut oleh suku sasak ini agak berbeda dengan islam pada umumnya. 


Rumah di desa suku sasak ini atapnya menggunakan alang2, dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan lantainya sendiri masih beralasakan tanah. Ada yang unik dari rumah adat suku sasak ini yaitu mereka melumuri lantainya rumahnya dengan kotoran kerbau agar terhindar dari nyamuk. Hmm... jadi aroma 'pengharum ruangan' seketika langsung tercium begitu kita memasuki rumah adat ini. 


Gak cuma rumah adanya doang yang unik, prosesi pernikahan adat suku sasak juga beda dari suku2 lain di indonesia. Disini terkenal dengan adat melarikan seorang perempuan yang akan dinikahi oleh sang laki2. Bagaimana uniknya pernikahan ini, mending lo sendiri yang ngegugel yah!



____lagi nyobain memintal kapas menjadi benang____










Setelah dari desa sade, tujuan selanjutanya adalah.... airport! 


Jujur, gue sedih harus meninggalkan pulau Lombok. Rasanya gak rela harus berpisah dengan keindahan Lombok dan eksotisnya pulau Gili Trawangan. Banyak yang bisa gue pelajari selama kunjungan singkat gue disini, dan hal itu bikin gue rasanya gak pengen pulang. Karena buat gue, bisa menikmati air laut yang biru bening kehijauan dan melihat terumbu karang serta ikan2 warna warni adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai.


[tu bi kontinu....]

Web Statistics